Faktor Penyebab Anak Jadi Cengeng dan Penakut Menurut Penelitian

Selasa, 11 Agustus 2026 | 01:53:01 WIB
Ilustrasi Anak menangis.

JAKARTA — Tidak sedikit orang tua mengeluhkan perilaku buah hati yang gampang menangis, ragu mencoba pengalaman baru, atau enggan berpisah dari pendampingnya.

Sering kali kebiasaan tersebut lantas dicap sebagai karakter cengeng atau penakut. Merujuk riset ilmiah, respons tersebut tidak mendadak muncul, melainkan dipengaruhi oleh beragam faktor pendukung.

Lantas, faktor apa saja yang membuat anak memperlihatkan kecenderungan lebih sensitif atau penakut? Berikut adalah beberapa penyebab dasarnya:

Memiliki temperamen yang memang lebih sensitif Setiap anak terlahir membawa temperamen unik. Sebagian anak gampang membaur, sedangkan sebagian lainnya memerlukan durasi adaptasi lebih lama agar merasa aman di arena baru.

Mengutip rujukan Psychological Science, anak berkategori fearful temperament atau berkarakter mudah takut cenderung lebih peka menghadapi suasana baru, sosok asing, maupun pengalaman yang belum pernah dirasakan.

Anak bertipe ini umumnya ekstra hati-hati sebelum melangkah. Mereka butuh alokasi waktu penyesuaian yang lebih panjang dibandingkan rekan sebayanya.

Pola asuh yang terlalu protektif Niat orang tua melindungi sang buah hati merupakan hal alamiah. Namun, proteksi yang melampaui batas justru berisiko memicu anak kian ragu melangkah di lingkungan baru.

Mengutip rujukan Clinical Child and Family Psychology, anak pemalu atau mudah takut yang memperoleh pola pengasuhan dominan mengontrol serta protektif berpotensi mengalami penguatan gejala kecemasan, khususnya kecemasan sosial.

Sebagai gambaran, orang tua kerap langsung mengambil alih penyelesaian masalah anak atau melarang eksplorasi karena cemas terjadi kecelakaan. Dampaknya, anak kehilangan peluang belajar untuk membuktikan kapasitas dirinya dalam menghadapi tantangan.

Pengalaman dan lingkungan ikut membentuk keberanian anak Tingkat keberanian anak turut ditempa oleh dinamika pengalaman harian. Pembentukan rasa takut merupakan buah interaksi antara temperamen, gaya pengasuhan, iklim di sekolah atau penitipan, serta relasi dengan kawan sebaya.

Anak yang pernah melalui peristiwa tidak menyenangkan atau terkendala dalam beradaptasi di arena baru dapat bertransformasi menjadi lebih waspada dan gampang cemas.

Karena itu, kurang tepat apabila hanya menghakimi karakter anak, sebab iklim lingkungan tumbuh kembang memegang peran sangat krusial.

Anak bisa belajar rasa takut dari orang tuanya Mengutip rujukan Journal of Child Psychology and Psychiatry, anak merupakan peniru yang andal, termasuk dalam mencerna pola respons orang tua terhadap keadaan. Sikap cemas dapat terserap anak via perilaku orang tua.

Sebagai contoh, tatkala orang tua kerap mempertontonkan kecemasan berlebih, memandang lingkungan penuh bahaya, atau terlampau mengekang aktivitas, anak akan menyimpulkan bahwa banyak hal di sekitarnya patut ditakuti meskipun sebenarnya aman.

Kurang kesempatan mencoba hal baru Rasa percaya diri tidak terbentuk secara instan. Anak memerlukan ruang untuk berproses dari mencoba, mengalami kegagalan, hingga bangkit mengulangi kembali.

Apabila tiap hambatan langsung dibereskan orang tua atau selalu dihindari lantaran dianggap sukar, anak tak memiliki rekam jejak untuk menguji kemampuannya.

Padahal, pengalaman positif saat berhasil melewati rintangan secara bertahap sangat ampuh menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mengikis ketakutan.

Kabar baiknya, watak gampang takut bukanlah kondisi permanen karena fase perkembangan anak sangat dinamis dipengaruhi oleh dinamika lingkungan.

Atensi dan dorongan orang tua, kesempatan mengeksplorasi tantangan baru secara perlahan, interaksi sosial yang sehat, serta lingkungan yang kondusif sanggup menuntun anak tumbuh lebih percaya diri.

Terkini