Peluncuran Molinas Jadi Momen Penguatan Industri Kendaraan Listrik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:52:02 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memandang bahwa peresmian Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan momentum krusial untuk mengakselerasi kemandirian sektor perindustrian di Indonesia lewat penguasaan teknologi serta pendalaman struktur industri.

"Molinas harus kami jadikan sebagai momentum untuk membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang semakin kuat dari hulu sampai hilir. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi harus menjadi basis produksi dan pengembangan teknologi kendaraan listrik yang memiliki daya saing global," kata Menperin, dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Peluncuran Molinas beserta rangkaian ekosistem pendukungnya ini diselenggarakan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bertempat di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada hari Kamis (13/8/2026).

Menperin mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia telah memiliki fondasi yang kokoh dalam membangun industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) secara terintegrasi.

Saat ini, tercatat ada sebanyak 69 perusahaan industri KBLBB kategori roda dua dan roda tiga dengan total kapasitas produksi mencapai 2,511 juta unit tiap tahunnya serta nilai investasi yang menyentuh angka sekitar Rp1,2 triliun.

Selain itu, terdapat pula 14 perusahaan kendaraan roda empat listrik yang memiliki kapasitas produksi sebesar 409.860 unit per tahun, serta 10 perusahaan kendaraan komersial listrik dengan kapasitas mencapai 7.500 unit per tahun.

Secara keseluruhan, nilai investasi pada sektor industri perakitan kendaraan listrik nasional saat ini tercatat berada di kisaran Rp30,468 triliun.

"Besarnya kapasitas produksi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki fondasi manufaktur yang sangat memadai. Tantangan kami berikutnya adalah memastikan pasar tumbuh secara berkelanjutan, utilisasi kapasitas produksi meningkat, dan pada saat yang sama struktur industri semakin dalam melalui penggunaan komponen buatan dalam negeri," ujar Agus.

Ia menyampaikan pula bahwa geliat perkembangan ekosistem kendaraan listrik di tanah air juga dapat dilihat dari bertambahnya jumlah pengguna secara berkala. Berdasarkan data olahan Kementerian Perindustrian, total populasi kendaraan listrik di Indonesia sudah menembus angka 468.231 unit hingga sekitar bulan April 2026.

Dari jumlah keseluruhan tersebut, segmen kendaraan listrik roda dua mendominasi sebagai kelompok terbesar dengan total 242.909 unit, yang kemudian disusul oleh kendaraan listrik roda empat kategori penumpang sebanyak 223.100 unit.

Populasi KBLBB nasional ini mencatatkan tren pertumbuhan yang amat pesat dengan tingkat compound annual growth rate (CAGR) melampaui angka 150 persen sepanjang kurun waktu 2020 hingga 2025.

Lonjakan pertumbuhan tersebut utamanya disokong oleh tingginya adopsi pada kendaraan roda dua dan roda empat.

Menperin menilai bahwa bertambahnya populasi kendaraan listrik ini merefleksikan semakin tingginya tingkat penerimaan dari masyarakat luas.

Kendati demikian, peningkatan permintaan pasar tersebut harus diimbangi secara konsisten dengan penguatan kapasitas produksi serta rantai pasok domestik.

"Kami ingin setiap peningkatan penggunaan kendaraan listrik memberikan multiplier effect sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional. Artinya, semakin banyak kendaraan listrik digunakan masyarakat, semakin besar pula komponen yang diproduksi di Indonesia, investasi yang masuk, teknologi yang kami kuasai, serta aktivitas industri yang tumbuh di dalam negeri," ungkapnya.

Di samping itu, catatan kinerja pasar sepeda motor listrik turut membuktikan peran vital dari intervensi kebijakan pemerintah dalam membentuk daya beli konsumen. Angka penjualan sepeda motor listrik tercatat merangkak naik dari 17.198 unit pada tahun 2022 menjadi 62.409 unit di tahun 2023, lalu berlanjut hingga mencapai 77.078 unit pada tahun 2024, sementara pada tahun 2025 penjualannya berada di angka 55.059 unit.

Ia menambahkan bahwa program bantuan pembelian KBLBB roda dua yang diselenggarakan pada tahun 2023 dan 2024 telah melibatkan hingga 22 pelaku industri dengan total 70 varian tipe kendaraan.

Realisasi penyaluran dana bantuan tersebut mencapai 11.532 unit pada tahun 2023 dan melonjak menjadi 62.541 unit pada tahun 2024, sehingga secara akumulatif ada sebanyak 74.073 unit kendaraan yang telah memanfaatkan program bantuan pembelian tersebut.

"Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa stimulus pasar memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan industri kendaraan listrik roda dua. Karena itu, kebijakan pengembangan demand dan supply harus berjalan beriringan sehingga industri memiliki kepastian pasar sekaligus terpacu terus melakukan investasi dan pendalaman struktur," jelas Menperin.

Lebih lanjut, pihaknya secara konsisten terus memastikan bahwa program transformasi kendaraan listrik mampu menghasilkan nilai tambah yang optimal bagi industri nasional melalui penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Berdasarkan data per 22 Juli 2026, tercatat sudah ada sebanyak 48 perusahaan dengan total 213 produk KBLBB yang mengantongi sertifikat resmi TKDN.

Khusus untuk kategori KBLBB roda dua dan roda tiga, terdapat 31 perusahaan dengan 98 produk yang telah mengantongi sertifikasi TKDN.

Capaian nilai TKDN pada kendaraan listrik roda dua dan roda tiga saat ini berada pada kisaran rentang 27,00 hingga 74,27 persen, dengan angka rata-rata di level 47,5 persen.

Sementara itu, persentase nilai TKDN tertinggi untuk kategori kendaraan listrik roda empat bahkan telah berhasil mencapai angka 80,01 persen.

Ia menuturkan bahwa pihak pemerintah telah menetapkan tahapan target peningkatan persentase TKDN untuk produk KBLBB.

Hingga tahun 2026 ini, target minimum TKDN dipatok pada angka 40 persen, yang kemudian akan ditingkatkan menjadi minimum 60 persen pada rentang tahun 2027 hingga 2029, dan mulai tahun 2030 ditargetkan bisa mencapai minimum 80 persen.

"Peluncuran Molinas menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk bergerak dari sekadar pengguna teknologi menjadi bangsa yang mampu mengembangkan dan memproduksi teknologi sendiri. Semangat Indonesia Incorporated yang disampaikan Bapak Presiden harus kami terjemahkan menjadi kerja nyata untuk membangun industri nasional yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing global," sebut Menperin.

Terkini