JAKARTA - Memilih bahan makanan untuk keluarga kerap menuntut orang tua mempertimbangkan banyak faktor, termasuk menentukan apakah produk organik jauh lebih baik dibandingkan pangan konvensional.
Makanan organik sering kali diidentikkan dengan pola hidup sehat karena proses produksinya terikat aturan ketat. Kendati demikian, pandangan bahwa seluruh makanan organik otomatis lebih sehat rupanya tidak sepenuhnya tepat.
Disadur dari Parents, ahli diet terdaftar Alicia Miller menyampaikan bahwa bukti mengenai perbedaan kadar nutrisi antara makanan organik dan konvensional masih belum konsisten.
Menurutnya, sejumlah riset memang menemukan beberapa produk organik memiliki kandungan nutrisi sedikit lebih tinggi, namun perbedaan tersebut tidak selalu dijumpai pada semua jenis bahan pangan.
Apa yang Dimaksud Makanan Organik?
Secara umum, makanan organik berasal dari praktik pertanian yang mematuhi standar khusus. Proses produksinya biasanya menghindari pupuk sintetis, organisme hasil rekayasa genetika (GMO), serta pestisida buatan tertentu.
Pada produk hewani, peternakan organik memberlakukan aturan ketat terkait penggunaan antibiotik dan hormon pertumbuhan, sementara makanan olahan organik memiliki regulasi mengenai bahan dasar yang diizinkan.
Salah satu pendiri Stonyfield Farm, Gary Hirshberg mengatakan konsumen dapat memperhatikan label organik untuk mengetahui apakah suatu produk telah memenuhi standar yang ditetapkan.
Kendati demikian, makanan organik bukan berarti seluruh kandungannya mendadak lebih bergizi.
Dana Angelo White, seorang ahli gizi terdaftar, mengingatkan bahwa makanan organik tetap wajib dikonsumsi dalam porsi yang wajar.
Ia memberikan gambaran sederhana bahwa kue tetap merupakan makanan tinggi gula dan kalori meskipun dibuat menggunakan bahan-bahan organik.
Apakah Makanan Organik Lebih Sehat?
Beberapa studi menemukan bahwa sejumlah sayuran organik memiliki konsentrasi mineral dan antioksidan yang lebih tinggi, serta mengaitkannya dengan beragam manfaat kesehatan.
Meski begitu, Miller menilai bukti ilmiah tersebut belum cukup konsisten untuk menyimpulkan bahwa makanan organik secara keseluruhan jauh lebih sehat ketimbang makanan konvensional.
Menurut penilaiannya, hasil tani konvensional tetap aman dan bergizi selama diproduksi sesuai standar keamanan pangan, dengan paparan pestisida yang masih berada dalam ambang batas aman.
Dengan demikian, pihak keluarga tidak perlu merasa bersalah apabila belum mampu memboyong seluruh kebutuhan bahan makanan dalam varian organik.
Harga Menjadi Salah Satu Pertimbangan
Salah satu kendala utama saat beralih ke makanan organik yaitu harganya yang cenderung lebih mahal akibat tingginya biaya produksi, tenaga kerja, lahan, peralatan, hingga pembiayaan sertifikasi.
Oleh karena itu, orang tua dapat menetapkan skala prioritas saat berbelanja. Miller menyarankan pembelian produk organik diprioritaskan untuk buah dan sayuran yang bagian kulitnya lazim ikut dikonsumsi, seperti apel dan buah beri.
Sementara itu, jenis bahan pangan yang kulitnya dikupas terlebih dahulu, seperti pisang, alpukat, serta jeruk, cukup memilih varian konvensional.
Langkah lain untuk menghemat anggaran belanja yakni dengan membeli produk musiman, berbelanja dalam partai besar, atau memanfaatkan promo diskon dan kupon potongan harga.
Produk Beku Juga Bisa Menjadi Pilihan
Bila bahan organik segar dirasa terlalu mahal, opsi produk beku sangat layak dipertimbangkan. Makanan yang dibekukan secara cepat tetap sanggup mengunci kandungan gizi di dalamnya.
Sejumlah penelitian turut membuktikan bahwa buah dan sayur beku memiliki nilai nutrisi yang setara dengan produk segar, bahkan dalam kondisi tertentu kandungannya bisa lebih tinggi.
Selain itu, masyarakat dapat mencari pasokan bahan pangan dari petani lokal melalui pasar tani, koperasi pangan, atau program pertanian berbasis komunitas.
White menjelaskan bahwa produk dari petani kecil belum tentu mengantongi sertifikat organik akibat besarnya biaya sertifikasi. Namun, konsumen bisa bertanya langsung kepada petani terkait teknik produksi yang diterapkan.
Pada akhirnya, para pakar menekankan bahwa makanan sehat tidak harus selalu berlabel organik. Hal terpenting adalah memastikan keluarga memperoleh asupan bergizi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing.