Cabai Meroket Tajam Akibat Dampak El Nino, Pasokan Menipis

Cabai Meroket Tajam Akibat Dampak El Nino, Pasokan Menipis
Pedagang memilah cabai di salah satu pasar [FOTO: NET].

JAKARTA - Harga komoditas cabai melonjak secara drastis di tengah tekanan produksi yang diakibatkan oleh kondisi cuaca kering serta potensi fenomena El Nino yang diprediksi masih akan bertahan hingga menjelang awal tahun 2027. Nilai jual cabai rawit merah bahkan dilaporkan sukses menembus level harga Rp120.000 per kilogram pada hari Selasa (11/8/2026), yang merefleksikan bahwa tekanan pasokan produk hortikultura sudah mulai dirasakan secara nyata di tingkat konsumen.

Merujuk pada catatan data dari sistem Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, harga cabai rawit merah meroket tajam sebesar 103,74% hingga bertengger di angka Rp120.000 per kilogram. 

Lonjakan harga serupa turut melanda komoditas cabai merah keriting yang mengalami kenaikan sebesar 52,81% menjadi Rp76.250 per kilogram, serta cabai merah besar yang naik 50,05% menjadi Rp73.750 per kilogram. Di samping itu, harga pasaran cabai rawit hijau tercatat ikut terkerek naik sebesar 25,12% menjadi Rp65.000 per kilogram.

Konstelasi kenaikan harga tersebut terjadi bertepatan dengan kondisi sektor produksi di sejumlah sentra kawasan hortikultura yang mulai mengalami dampak buruk dari anomali cuaca ekstrem.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Reynaldi Sarijowan, mengemukakan bahwa para pedagang pasar mulai merasakan adanya penurunan volume pasokan cabai di berbagai wilayah. Berdasarkan hasil pemantauan langsung para pedagang, harga beberapa varietas cabai tercatat mengalami eskalasi kenaikan berkisar antara 10% hingga 15% dari kondisi normal.

"Memang kondisi beberapa produk hortikultura di masa El Nino ini cukup terdampak beberapa komoditas, terutama cabai. Berdasarkan laporan dari teman-teman berdagang, per hari ini itu kompak ya, beberapa komoditas pangan ini terpantau naik," ujar Reynaldi, Selasa (11/8/2026).

Menurut pandangannya, tekanan pasokan paling parah dirasakan pada komoditas cabai merah keriting, cabai merah besar, serta cabai rawit merah. Dinamika situasi tersebut memaksa para konsumen untuk mulai melakukan penyesuaian pola pembelian manakala harga cabai rawit merah melambung tinggi.

Sebagian konsumen, tutur Reynaldi, menyiasatinya dengan cara mencampur pembelian cabai rawit merah bersama cabai rawit hijau demi menekan anggaran belanja. Langkah strategi itu ditempuh mengingat harga cabai rawit merah di sejumlah pasar sempat menyentuh kisaran Rp115.000 hingga Rp117.000 per kilogram.

"Jadi mengurangi pembelian tidak sampai ya, beralih ke cabai lain juga tidak. Tapi ada mekanisme kalau di pasar itu bisa dicampur, katakanlah beli cabai rawit merahnya seperempat terus ditambah lagi cabai rawit hijau seperempat," katanya.

Tekanan ketersediaan pasokan tersebut turut mulai menjalar pada komoditas bahan pangan pokok lainnya. Harga komoditas daging ayam ras segar berdasarkan data PIHPS terpantau naik 26,4% menjadi Rp50.750 per kilogram. Kendati demikian, tren sebaliknya terjadi pada komoditas daging sapi kualitas I yang justru mengalami penurunan harga sebesar 5.37% menjadi Rp143.750 per kilogram, serta daging sapi kualitas II yang turun 8,18% menjadi Rp131.250 per kilogram.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index