Klub Liga Inggris Leicester City Dijual oleh Keluarga Srivaddhanaprabha

Klub Liga Inggris Leicester City Dijual oleh Keluarga Srivaddhanaprabha
Leicester City [FOTO: NET].

JAKARTA - Klub sepak bola Leicester City dilaporkan telah memasuki babak proses penjualan setelah pihak pemilik klub, yakni keluarga Srivaddhanaprabha melalui naungan korporasi King Power International, menawarkan keseluruhan aset kepemilikan klub kepada para calon investor potensial.

Berdasarkan publikasi laporan dari media The Athletic, sebuah brosur dokumen penawaran penjualan berformat khusus bertajuk "Project Lineup" telah rampung disusun oleh bank investasi multinasional Citigroup dan disebarkan kepada sejumlah calon investor.

Dokumen tersebut memuat rincian lengkap mengenai portofolio aset berharga milik Leicester City, mulai dari divisi tim putri, akademi usia muda, kompleks Stadion King Power, pusat fasilitas latihan modern Seagrave, hingga kepemilikan klub saudara mereka yang berbasis di Belgia, OH Leuven.

Mengacu pada keterangan dari sumber internal yang mengetahui secara pasti jalannya proses transaksi tersebut, keluarga Srivaddhanaprabha mematok angka sebesar 222 juta poundsterling atau setara dengan kisaran Rp 5,33 triliun untuk keseluruhan total portofolio klub.

Kendati demikian, nilai realisasi transaksi akhir diprediksi jauh lebih mungkin berada di angka kisaran 148 juta poundsterling atau setara dengan Rp 3,55 triliun.

Penurunan proyeksi nilai harga jual tersebut berkaitan erat dengan situasi pelik kondisi Leicester yang baru saja menelan pil pahit terdegradasi turun ke League One, yang merupakan kasta kompetisi tingkat ketiga dalam piramida sepak bola Inggris, serta akumulasi kerugian finansial masif yang mendera klub dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Leicester City Catat Kerugian hingga Rp 6,5 Triliun

Klub berjuluk The Foxes ini mengalami tren penurunan performa yang terbilang drastis dalam empat musim terakhir penyelenggaraan kompetisi.

Berdasarkan empat laporan finansial terpadu sejak tahun 2021, klub tercatat membukukan kerugian masif masing-masing senilai 92,5 juta poundsterling, 89,7 juta poundsterling, 19,4 juta poundsterling, serta 71,1 juta poundsterling.

Apabila seluruh angka kerugian tersebut dikonversikan menggunakan asumsi nilai tukar kurs 1 poundsterling senilai Rp 24.000, maka total kerugian kumulatif yang ditanggung mencapai kisaran angka Rp 6,54 triliun.

Kemunduran prestasi juga terlihat jelas di atas lapangan hijau. Leicester yang dulunya sempat mencetak sejarah megah sebagai kampiun juara Premier League pada musim 2016, kini justru harus rela berlaga di League One usai menelan rentetan tiga kali degradasi menyakitkan.

Sekalipun demikian, paket keseluruhan aset yang dimiliki Leicester dinilai masih memiliki daya pikat yang kuat di mata para investor.

Nilai valuasi portofolio aset properti fisik klub pada tahun 2025 tercatat menyentuh angka 204 juta poundsterling atau setara dengan Rp 4,90 triliun.

Rincian dari aset tersebut mencakup Stadion King Power dengan taksiran nilai 74 juta poundsterling (sekitar Rp 1,78 triliun), pusat latihan Seagrave senilai 121 juta poundsterling (sekitar Rp 2,90 triliun), serta kompleks Belvoir Drive senilai 9 juta poundsterling (sekitar Rp 216 miliar).

Leicester turut menguasai kepemilikan sebidang lahan di sekitar area King Power Stadium yang sebelumnya dibeli seharga 11,6 juta poundsterling (sekitar Rp 278,4 miliar). Tanah tersebut pada mulanya dipersiapkan sebagai bagian dari grand masterplan proyek perluasan stadion, namun rencana pembangunan itu terpaksa dihentikan menyusul musibah degradasi Leicester dari ajang Premier League pada penghujung musim 2022-2023.

Leicester Tawarkan Gelar Premier League hingga Akademi

Di dalam dokumen Project Lineup tersebut, pihak manajemen Leicester turut menonjolkan rekam jejak sejarah kejayaan klub guna menarik minat para calon investor.

Keluarga Srivaddhanaprabha bersama King Power International pertama kalinya mengakuisisi kepemilikan Leicester dari tangan Milan Mandaric pada tahun 2010 dengan menggelontorkan dana sekitar 35 juta poundsterling.

Sejak era pengambilalihan tersebut, Leicester sukses menapaki salah satu fase periode emas paling gemilang dalam sejarah perjalanan klub.

Klub kebanggaan publik Midlands tersebut secara mengejutkan berhasil keluar sebagai juara ajang Premier League pada tahun 2016. Lima musim berselang, Leicester kembali menorehkan tinta emas dengan merengkuh trofi ajang FA Cup untuk kali pertama sepanjang sejarah klub pada tahun 2021.

Brosur penawaran itu juga menempatkan Leicester sebagai salah satu dari segelintir klub—yakni hanya lima klub saja—yang sanggup merajai tiga trofi domestik utama sepak bola Inggris sejak pergantian milenium tahun 2000.

Fasilitas akademi sepak bola berkategori level satu milik Leicester turut dilego sebagai salah satu daya tarik utama yang disodorkan kepada investor.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, para talenta muda produk didikan akademi tersebut terbukti mampu mendatangkan pemasukan finansial dari sektor penjualan transfer pemain senilai lebih dari 250 juta poundsterling atau setara dengan kisaran Rp 6 triliun.

Sementara itu, keberadaan klub OH Leuven diposisikan sebagai elemen penting dalam struktur ekosistem kepemilikan multi-klub yang diyakini mampu memberikan keunggulan strategis dalam hal proses pembinaan pemain, efektivitas perekrutan, hingga pemanfaatan sistem analisis modern.

Keluarga Srivaddhanaprabha Siap Menjual Leicester

Kabar rencana pelepasan kepemilikan klub ini menandai adanya pergeseran sikap yang cukup kontras dari pihak keluarga Srivaddhanaprabha.

Pada bulan Januari 2026 lalu, sang Chairman klub yakni Aiyawatt Srivaddhanaprabha masih secara tegas menunjukkan komitmen penuhnya terhadap kelangsungan klub serta mengutarakan niat kuat meneruskan cita-cita luhur mendiang ayahnya, mendiang Vichai Srivaddhanaprabha.

Vichai sendiri telah berpulang pada tahun 2018 silam akibat tragedi kecelakaan helikopter tragis yang terjadi di luar area King Power Stadium, yang turut merenggut nyawa empat korban jiwa lainnya.

Sebelumnya, Aiyawatt sempat mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki ikatan emosional yang sangat mendalam dengan Leicester serta bertekad memastikan klub berada dalam fondasi kesehatan finansial yang prima sebelum akhirnya memutuskan melepas hak kepemilikan.

Kendati demikian, situasi internal klub yang memburuk dalam beberapa musim terakhir justru memicu ketegangan hubungan antara pihak manajemen pemilik dan barisan suporter setia.

Kekecewaan suporter yang pada mulanya diarahkan kepada Direktur Sepak Bola Jon Rudkin kini telah meluas dan menghujat jajaran petinggi manajemen klub secara keseluruhan.

"Lima tahun lalu, klub kami adalah tim Premier League mapan dengan skuad, akademi, reputasi, dan fasilitas yang kuat—belum lagi keberhasilan meraih trofi baru-baru ini," tulis organisasi kelompok suporter Leicester City, Foxes Trust.

"Sejak saat itu, kemerosotan klub kami yang mengkhawatirkan, baik di dalam maupun di luar lapangan, telah menjadi sebuah bencana."

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index