Implementasi B50 Berpotensi Hemat Devisa tapi Tekan Ekspor Sawit RI

Implementasi B50 Berpotensi Hemat Devisa tapi Tekan Ekspor Sawit RI
bahan bakar nabati (BBN) B50 [FOTO: NET].

JAKARTA - Penerapan program mandatori biodiesel B50 dinilai mampu memberikan penguatan terhadap sektor ketahanan energi nasional serta memangkas tingkat ketergantungan Indonesia terhadap pasokan impor bahan bakar minyak. Meskipun demikian, Chief Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, mengingatkan bahwa implikasi kebijakan tersebut terhadap neraca eksternal perlu dicermati secara komprehensif.

Irman memaparkan bahwa kebijakan B50 menyimpan potensi besar dalam memberikan keuntungan berupa penghematan devisa negara seiring berkurangnya kebutuhan impor komoditas solar. Pemerintah sendiri memproyeksikan program ini mampu mendatangkan penghematan valuta asing hingga menyentuh kisaran Rp170 triliun tiap tahunnya.

“B50 dapat secara material mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor diesel dan memperkuat ketahanan energi domestik,” tulis dalam catatan riset Bank Danamon, Jumat (14/8/2026).

Kendati demikian, menurut pandangan Irman, dampak positif terhadap sektor neraca perdagangan tidak otomatis terlihat secara instan karena ada variabel lain yang patut diperhitungkan, yakni lonjakan penyerapan minyak kelapa sawit mentah (CPO) untuk konsumsi di dalam negeri.

Peningkatan porsi konsumsi CPO domestik guna memenuhi kebutuhan biodiesel ini berpotensi memangkas volume ekspor sawit nasional sehingga turut memengaruhi perolehan devisa ekspor Indonesia.

“Dampak terhadap neraca eksternal lebih kompleks karena peningkatan penyerapan CPO domestik dapat mengurangi ketersediaan untuk pasar ekspor,” ujarnya.

Irman berpandangan bahwa proses transisi menuju kemandirian energi ini tetap mendatangkan manfaat struktural yang positif dalam jangka panjang. Dengan meminimalisasi ketergantungan pada energi impor, perekonomian Indonesia akan menjadi jauh lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian serta gejolak harga minyak dunia.

Walau demikian, ia memperkirakan bahwa kebutuhan impor barang modal kemungkinan masih akan tetap berjalan dalam jangka pendek demi menopang sektor investasi hilirisasi, energi, serta berbagai proyek strategis lainnya.

“Peralihan menuju ekonomi yang lebih mandiri dapat memperkuat posisi eksternal Indonesia secara struktural, tetapi dampaknya terhadap neraca transaksi berjalan tidak selalu langsung terlihat,” katanya.

Di luar kebijakan energi tersebut, Irman turut menyoroti efektivitas pengelolaan komoditas strategis melalui instrumen Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi domestik. Menurutnya, tingkat transparansi transaksi ekspor yang lebih baik serta optimalisasi tata kelola penerimaan devisa diyakini mampu mendongkrak retensi devisa di dalam negeri.

Sejak mulai beroperasi pada tanggal 1 Juni 2026 lalu, tercatat sudah ada sekitar US$14 miliar devisa hasil ekspor dari komoditas batu bara, minyak kelapa sawit, dan ferro alloy yang berada dalam radar pemantauan DSI. Kendati demikian, Irman menegaskan bahwa angka tersebut tidak bisa secara otomatis diartikan sebagai tambahan pasokan dolar AS yang langsung masuk ke pasar domestik.

 Pengaruh nyatanya terhadap pergerakan nilai tukar rupiah tetap bergantung pada tingkat keberhasilan konversi serta penyimpanan devisa para eksportir di dalam negeri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index