JAKARTA - Apakah kulit Anda mendadak terasa gatal serta kemerahan begitu melangkah keluar dari area kolam renang? Sebagian besar orang kerap kali langsung mengambil kesimpulan bahwa diri mereka sedang mengalami alergi klorin.
Akan tetapi, menurut penjelasan dari seorang pakar alergi asal Cleveland Clinic, Ronald Purcell, MD, reaksi fisik semacam itu sejatinya hampir selalu dikategorikan sebagai bentuk iritasi, dan bukanlah suatu reaksi alergi yang sesungguhnya.
Paparan zat klorin yang terkandung di dalam air kolam renang memang berpotensi memicu timbulnya iritasi pada lapisan kulit, terlebih lagi bagi individu-individu yang memiliki tipe kulit sensitif.
Merujuk pada publikasi informasi dari Cleveland Clinic, kemunculan reaksi kulit akibat paparan zat klorin hampir selalu bermuara pada kondisi iritasi, alih-alih alergi yang sebenarnya.
Klorin Bisa Ganggu Pelindung Kulit
Ahli alergi dari Cleveland Clinic, Ronald Purcell, MD, menerangkan bahwa kandungan klorin memiliki daya untuk melunturkan lapisan minyak alami yang secara normal menutupi permukaan kulit manusia.
Minyak alami tersebut memegang peranan krusial dalam menjaga kadar kelembapan sekaligus berfungsi sebagai perisai pelindung kulit dari berbagai macam zat asing yang berpotensi memicu terjadinya iritasi.
“Reaksi terhadap klorin hampir selalu merupakan iritasi, bukan alergi yang sebenarnya,” kata Purcell.
Ketika kuantitas minyak alami pelindung kulit tersebut mengalami penurunan, kondisi fisik kulit secara otomatis akan berubah menjadi lebih kering serta jauh lebih rentan terhadap rangsangan luar.
Kondisi inilah yang kemudian memicu kulit menjadi lebih gampang mengalami kemerahan, rasa gatal-gatal, hingga timbulnya peradangan berskala ringan.
Risiko kemunculan ruam akibat paparan klorin ini juga tercatat jauh lebih besar menimpa orang-orang yang sebelumnya memang sudah mempunyai riwayat gangguan pada fungsi lapisan pelindung kulit, seperti misalnya penderita penyakit eksim.
Bahkan, individu yang memiliki kebiasaan sering berenang pun cenderung lebih rentan terserang iritasi akibat frekuensi paparan klorin yang berulang-ulang pada kulit mereka.
Di samping itu, faktor gesekan fisik dari pakaian renang yang terlalu ketat melekat di badan juga turut memperparah kondisi kulit sehingga semakin mudah mengalami gangguan kesehatan usai beraktivitas di dalam air kolam.
Seperti Apa Ciri Ruam akibat Klorin?
Gejala ruam yang ditimbulkan akibat paparan klorin umumnya diidentifikasi lewat tanda-tanda berupa kulit yang memerah, rasa gatal, serta disertai sedikit inflamasi atau peradangan. Sebaran area kulit yang terdampak pun biasanya mencakup wilayah yang cukup luas.
Menurut pemaparan Purcell, keluhan fisik tersebut pada umumnya lebih dominan dirasakan sebagai sensasi gatal yang disertai rasa kurang nyaman, alih-alih memunculkan rasa nyeri atau sakit yang hebat.
“Ruam tersebut kemungkinan tidak akan terasa sakit. Hanya gatal dan tidak nyaman,” ujarnya.
Faktor rentang waktu munculnya keluhan ini juga bisa dijadikan sebagai salah satu petunjuk penting. Kemunculan ruam karena klorin lazimnya dapat timbul beberapa menit berselang usai seseorang beranjak keluar dari kolam renang, hingga kurun waktu sekitar satu hari penuh setelah berenang.
Reaksi fisik tersebut biasanya hanya terjadi secara spesifik pada bagian-bagian tubuh yang sempat bersentuhan langsung dengan air kolam.
Pada sebagian besar kasus yang sering ditemui, ruam akibat klorin ini sifatnya hanyalah sementara saja dan mampu mereda serta membaik dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.
“Ruam kemungkinan akan membaik dalam beberapa jam hingga paling lama satu atau dua hari setelah terpapar,” jelas Purcell.
Kendati demikian, apabila gejala ruam tersebut tak kunjung menunjukkan tanda-tanda penyembuhan atau justru bertambah parah setelah lewat beberapa hari, maka patut diwaspadai adanya faktor pemicu lain yang memerlukan pemeriksaan medis secara langsung ke dokter.
Bukan Berarti Tidak Boleh Berenang
Mengalami gangguan iritasi kulit akibat klorin tidak lantas mengharuskan seseorang untuk berhenti total dari hobi berenang.
Purcell mengungkapkan bahwa gangguan kesehatan ringan semacam itu pada umumnya masih sangat bisa untuk diantisipasi penanganannya dan bukanlah kategori kondisi medis yang berbahaya.
“Jangan menghindari berenang jika Anda menikmatinya,” ujarnya.
Salah satu langkah preventif sederhana yang bisa diterapkan guna menekan risiko terjadinya iritasi adalah dengan membilas tubuh melalui mandi bersih sebelum memutuskan masuk ke dalam kolam air.
Melakukan pembilasan tubuh terlebih dahulu terbukti membantu meminimalisasi volume penyerapan air kolam oleh pori-pori kulit.
Langkah ini sekaligus berfungsi untuk membersihkan sisa keringat serta minyak kotor yang menempel di permukaan kulit.
Begitu pula selepas tuntas berenang, dianjurkan untuk segera mandi kembali guna mempersingkat durasi waktu menempelnya zat klorin pada kulit tubuh.
Penting untuk Jaga Kelembapan Kulit
Seusai merampungkan proses pembilasan badan, tahap berikutnya adalah mengaplikasikan produk pelembap guna membantu mengembalikan kadar hidrasi dan kelembapan alami kulit.
Purcell turut menganjurkan penggunaan produk sabun pembersih yang memiliki formula lembut serta bebas kandungan pewangi buatan, terutamanya bagi para pemilik jenis kulit sensitif.
Kebiasaan menggosok kulit tubuh secara terlalu kasar juga amat disarankan untuk dihindari.
Tindakan eksfoliasi yang berlebihan justru berisiko merusak integritas lapisan pelindung alami kulit, yang pada akhirnya malah menjadikan kulit semakin sensitif tatkala kembali terpapar zat klorin.
Aspek kualitas kebersihan air kolam renang juga menjadi hal krusial yang patut dicermati.
Menurut pandangan Purcell, kolam renang yang memiliki kondisi pengelolaan zat kimia air kurang terjaga dengan baik terbukti jauh lebih gampang memicu timbulnya reaksi iritasi pada kulit.
Perlu dicatat pula bahwa aroma tajam klorin yang tercium sangat pekat tidak selalu merepresentasikan kebersihan air kolam yang lebih baik.
Bau menyengat tersebut justru kerap kali muncul manakala zat klorin bereaksi secara kimiawi dengan keringat, kotoran, serta minyak yang berasal dari tubuh para perenang.
Reaksi percampuran zat tersebut menghasilkan suatu senyawa kimia bernama kloramin yang memiliki sifat jauh lebih agresif dalam mengiritasi kulit.
Apabila keluhan ruam pada kulit teramati menetap, menunjukkan eskalasi keparahan, atau bahkan dibarengi dengan munculnya gejala pembengkakan, rasa pusing kepala, hingga hambatan kesulitan saat bernapas maupun menelan makanan, maka disarankan untuk segera mencari pertolongan medis darurat.
Pasalnya, rangkaian gejala klinis tersebut sudah mengindikasikan adanya potensi reaksi alergi sistemik yang serius dan bukan lagi sekadar iritasi ringan akibat paparan klorin biasa.