JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan komitmen penuh untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan kawasan pertanian komoditas durian di Sulawesi Tengah (Sulteng). Langkah ini diambil guna menjaga keberlanjutan ekspor produk unggulan daerah.
"Kami telah mengirimkan 14 ribu batang bibit durian bersertifikat sebagai bagian dari upaya percepatan pengembangan kawasan durian di Sulteng," kata Direktur Buah dan Florikultura Dirjen Hortikultura Kementan Fausiah T Ladja saat menghadiri acara Merdeka Ekspor Durian Sulteng 2026 di Kota Palu, Rabu.
Fausiah menerangkan bahwa pengiriman bibit tahap pertama dialokasikan untuk kebutuhan lahan seluas 140 hektare. Bibit tersebut distributed ke beberapa daerah sentra durian setempat, seperti Kabupaten Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-una, Tolitoli, Sigi, dan Donggala.
Paket program pengembangan kawasan durian dari Ditjen Hortikultura ini tidak hanya mencakup alokasi bantuan bibit, melainkan juga dilengkapi dengan sarana pendukung produksi berupa pupuk organik.
"Informasi kami terima dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) 14 ribu bibit dan 210 kilogram pupuk organik sudah tiba di Sulteng," ujarnya.
Ia menilai posisi geografis Sulteng sangat potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura, khususnya durian, sehingga dinilai sangat tepat menjadi sentra pengekspor durian nasional.
"Durian menjadi sumber ekonomi baru bagi daerah maupun ekonomi nasional. Kami berharap bantuan yang telah diberikan kepada petani dijaga dan dirawat, supaya bisa memberikan manfaat kesejahteraan," ucap Fausiah.
Saat ini wilayah Sulteng telah menjalankan aktivitas ekspor durian beku (frozen) varietas Montong menuju pasar China melalui pelabuhan Pantoloan Palu.
Berdasarkan catatan Badan Karantina Indonesia (Barantin) sejak Januari hingga Juli 2026, total ekspor durian beku ke China sudah menembus angka 272 kontainer dengan volume keseluruhan mencapai 7.344 ton.
Di mana tiap kontainer menampung sekitar 27 ton durian beku, dengan estimasi nilai komoditas mencapai Rp2,5 miliar hingga Rp2,8 miliar per kontainernya.
"Indonesia merupakan salah satu produsen durian terbesar di Asia Tenggara. Rata-rata produksi 1,8 juta ton per tahun dengan luas panen sekitar 105 ribu hektare. Kami berharap Sulteng mampu menopang jumlah produksi nasional ke depan," kata dia menuturkan.